PANTUN MELAYU

Ternyata Ini Alasan UNESCO Tetapkan Pantun Sebagai Warisan Dunia Takbenda

pantun melayu dari buku kumpulan pantun melayu karya mantan Walikota Batam 2006-2016 Ahmad Dahlan. Buku yang diterbitkan penerbit Koekoesan 2011

Penulis: filemon halawa
Editor: filemon halawa
TRIBUNBATAM.ID/LEO HALAWA
Seorang karyawati di Batam, Provinsi Kepri sedang memperlihatkan buku kumpulan pantun karya Ahmad Dahlan 

TRIBUNBATAM.id - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia atau Kemenlu ( kemlu.go.id) pada pertengahan Desember 2020 lalu, merilis bahwa Organisasi Pendidikan, Keilmuan,

dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO ( United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan 'Pantun' sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Nominasi Pantun yang diajukan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia ini menjadi tradisi budaya Indonesia ke-11 yang diakui oleh UNESCO, setelah sebelumnya Pencak Silat diinskripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tanggal 12 Desember 2019.

Baca juga: 10 Objek Wisata Batam Ini Paling Terkenal

UNESCO menilai Pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, namun juga kaya akan nilai-nilai budaya dan agama yang mejadi panduan moral.

Pesan yang disampaikan melalui Pantun umumnya menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antarmanusia.

Bagi Indonesia, keberhasilan penetapan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda tidak lepas dari keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah, maupun berbagai komunitas terkait Pantun seperti Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Selanjutnya, Lembaga Adat Melayu, Komunitas Joget Dangdung Morro, Komunitas Joget Dangdung Sungai Enam, Komunitas Gazal Pulau Penyengat, Sanggar Teater Warisan Mak Yong Kampung Kijang Keke, serta sejumlah individu dan pemantun Indonesia.

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Surya Rosa Putra menyampaikan bahwa sebagai nominasi Indonesia pertama yang diajukan bersama dengan negara lain,

inskripsi Pantun memiliki arti penting bagi Indonesia dan Malaysia, yang merefleksikan kedekatan dua negara serumpun yang berbagi identitas, budaya, dan tradisi Melayu.

Baca juga: Objek Wisata Pantai Viovio Tawarkan Nuansa Romantis, Gazebo Bisa Buat Satu Keluarga

Baca juga: Kuliner Warung Nakus di Batam Tawarkan Cita Rasa Nusantara

Pantun merupakan tradisi lisan komunitas Melayu yang telah hidup lebih dari 500 tahun. Pantun digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran melalui syair yang berima.

Umumnya pantun digunakan dalam nyanyian dan tulisan di upacara adat dan pernikanan. Saat ini, tidak hanya sebagai identitas Melayu, Pantun juga telah menjadi media pendukung dalam pemberdayaan ekonomi kreatif.

Ke depan, Indonesia dan Malaysia berkomitmen untuk terus melakukan berbagai upaya untuk memastikan pelindungan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui pelibatan aktif komunitas lokal di kedua negara.

Pantun juga dilestarikan dengan diajarkan secara formal di sekolah dan melalui kegiatan kesenian.

Tribunbatam.id, mengutip salah satu contoh pantun melayu dari buku kumpulan pantun melayu karya mantan Walikota Batam 2006-2016 Ahmad Dahlan. Buku yang diterbitkan penerbit Koekoesan 2011karya Ahmad Dahlan memuat ribuan pantun yang pernah diucapkan pada saat momen acara:

Baca juga: Objek Wisata Pantai Viovio Tawarkan Nuansa Romantis, Gazebo Bisa Buat Satu Keluarga

  • Pantun Ahmad Dahlan pada acara peresmian hotel pasific Senin 24 Desember 2007 ( Halaman 12)

Sungguh terang cahaya rembulan

sinarnya mencarak sampai ke taman

pasific palace segera diresmikan

seperti di tengah lautan

Anak dara menanam selasih

selasih diminum sambil berjalan

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved