WISATA BATAM

Menjelajahi Wisata Ex Camp Vietnam di Pulau Galang, Jadi Saksi Pilu Krisis Kemanusiaan

Ketika mengunjungi Batam, sederet destinasi wisata populer wajib kamu kunjungi seperti Ex Camp Vietnam di Pulau Galang. Begini sejarahnya.

Editor: Putri Larasati
Tribun Batam
Camp Vietnam di Batam 

Editor: Putri Larasati Anggiawan

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Ketika mengunjungi Batam, sederet destinasi wisata populer wajib kamu kunjungi.

Salah satunya adalah objek wisata Ex Camp Vietnam di Pulau Galang.

Camp Vietnam ini kaya akan nilai sejarah, dan menjadi saksi pilu krisis kemanusiaan pada era-nya.

Siapa menyangka, ribuan sekoci yang terombang-ambing di Laut Cina Selatan sekitar tahun 1970an dapat mengubah sejarah Pulau Galang hingga hampir 2 dekade?

Jika kita menginjakkan kaki di salah satu pulau kecil di Kepulauan Riau ini tanpa tahu sejarahnya, mungkin saja tidak akan menyangka bahwa sekitar 80 hektar lahan di Pulau Galang ini pernah menjadi tempat penampungan sementara bagi para pengungsi dari Vitenam.

Namun benar itulah yang terjadi berpuluh tahun lalu.

Baca juga: Bawaslu Batam Kaji Laporan terkait Calon Wali Kota Batam HM Rudi, Akan Lanjut atau Dihentikan

Puluhan ribu lebih penduduk Vitenam sempat berdesak-desakkan dalam perahu-perahu kecil 7 x 2 meter selama berjam-jam dihantam amuk ombak Laut Cina Selatan, berjuang mencari daratan.

Pelayaran itu bukannya tanpa mara bahaya.

Menurut kesaksian para pengungsi yang selamat, dan kemudian diceritakan kembali oleh Kepala Museum ex Camp Vietnam, Said Adnan, ribuan kapal karam sempat ditelan badai dan ombak sebelum sampai daratan.

"Seperti yang bisa dilihat dari lukisan-lukisan di sini, banyak pengungsi Vietnam yang meninggal dalam perjalanan. Mayatnya ditaruh dalam tandu, bersiap hendak dibuang ke laut," ujar Adnan menerangkan salah satu lukisan dalam museum ex Camp Vietnam.

Di dalam lukisan itu, tubuh-tubuh pucat bayi, anak kecil, dan orang dewasa tampak terbaring tanpa nyawa, berdempetan di atas tandu kapal.

Lukisan yang ditandatangani pelukis bernama Rizal ini mengilustrasikan kondisi para pengungsi Vietnam di dalam kapal.

Perjalanan menantang bahaya tanpa arah tujuan itu terpaksa dijalani sebagian besar penduduk Vietnam Selatan, yang kalah berperang melawan aliran politik nasionalis.

Tepatnya tanggal 30 April 1975, Saigon jatuh ke tangan kekuasaan Vietnam Utara, dan pada saat itulah, penduduk Vietnam Selatan dihadapkan pada dua pilihan dilematis.

"Lari, atau dibunuh," jelas Adnan dalam suasana hening, mengenang pengalamannya membaur dengan para pengungsi Vietnam kala itu.

Mulanya, pada 22 Mei 1975, gelombang pertama pengungsi dari Vietnam terdampar di Pulau Natuna dengan diselamatkan oleh petugas pengeboran minyak lepas pantai Konopo.

Para pengungsi itu pun berangsur-angsur datang hingga jumlahnya membludak.

Terdapat hampir 30 ribu lebih pengungsi pada bulan Oktober tahun 1979.

Arus pengungsi yang tak tertampung itu pun kemudian merambah Provinsi Riau untuk mencari suaka.

Selanjutnya di tahun 1978, keadaan ini pun dilaporkan ke Pemerintah Pusat, yang saat itu masih dipimpin oleh Presiden Soeharto.

Soeharto kemudian langsung memerintahkan dibangunnya camp tahap dua di Pulau Galang, Kepulauan Riau.

Kala itu, Pulau Galang masih dianggap sebagai pulau kosong tak berpenghuni.

Namun nyatanya saat itu, Pulau Galang telah ditinggali oleh beberapa warga asli yang kemudian dipindahkan ke Sembulang guna menghindari percampuran antara pengungsi Vietnam dan warga lokal.

"Rata-rata para pengungsi itu memiliki dua motif melarikan diri dari Vietnam, yaitu pertama menghindari perang, kedua ingin mencari penghidupan yang layak. Latar belakang pengungsi itu pun bermacam-macam, ada yang rakyat biasa, dokter, profesor, bahkan tentara," jelas Adnan.

Lokasi Pulau Galang saat itu dipilih karena dianggap strategis, dan terdapat sumber air, yaitu Sungai Gong, yang dapat memenuhi kebutuhan air bagi ribuan pengungsi.

Luas camp pada saat itu mencapai 80 hektar, dan pembangunan fasilitasnya didanai oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

"Di sini kami merawat pengungsi dengan adil dan tanpa kekerasan," ujar Adnan, sembari menunjukkan sebuah maket yang menggambarkan peta seisi camp Pulau Galang.

Di 80 hektar lahan pulau ini, pada masa berdirinya camp Vietnam, dibangun berbagai fasilitas berupa Pelabuhan, perumahan pengungsi, gereja, sekolah, jaringan perairan, hingga akses jalan yang memadai.

Oleh karena lengkapnya fasilitas di Pulau Galang, para pengungsi yang sempat ditampung di Tanjung Uban, dan pulau-pulau lainnya pun dipindahkan ke Pulau Galang.

Guna memenuhi kebutuhan logistiknya, PBB secara rutin menyediakan sembilan bahan pokok (sembako) melalui para petugas.

Adnan menyatakan, alhasil camp berlangsung selama 16 tahun lamanya sejak 1 Januari 1980 sampai 3 September 1996.

Selama camp itu berlangsung, PBB juga menyediakan program pelatihan bahasa dan keterampilan yang dapat diikuti para pengungsi sebagai modal untuk mencari penghidupan lain yang lebih layak di luar camp pengungsian.

Menjelang akhir masa pengungsian, ada dua peluang yang menunggu para pengungsi Vietnam kala itu.

Pertama, pengungsi dapat mencari kehidupan baru di luar negeri, atau pulang kembali ke negara asalnya Vietnam.

Pada saat itu, sekitar tahun 1990-an, negara Vietnam telah siap menerima kembali kedatangan warga negaranya yang mengungsi.

Sementara itu, para pengungsi dengan usia produktif, memiliki keterampilan dan sehat secara jasmani dan rohani diperbolehkan bekerja di luar negeri seperti Amerika, Hongkong, Filipina, dan Malaysia.

"PBB membagikan perangko-perangko kepada para pengungsi, dan mendorong agar mereka berkirim surat ke luar negeri. Ada yang mencari sanak keluarganya, ada pula yang korespondensi dan mencari kesempatan kerja di luar negeri," jelas Adnan.

Alhasil, setelah belasan tahun, proses pemulangan pengungsi pun dilakukan.

Saat itu, aktivitas di camp Vietnam ditutup, hingga di tahun 2000, lahan ini dibuka kembali sebagai tempat wisata yang dikelola oleh BP Batam.

Sebagian bekas pengungsi Vietnam yang dikenal Adnan sekarang sudah tersebar di luar negeri.

Ada yang pindah ke kampung halamannya di Vietnam, dan beberapa pula telah memulai kehidupan baru di negara-negara lain.

Seolah ingin terus mengenang perjuangan di masa lalu, sebagian bekas pengungsi tersebut juga sempat menggelar reuni di kawasan wisata ex Camp Vietnam, contohnya, pada tahun 2005, reuni dihadiri sekitar 480 ex pengungsi Vietnam, dan di tahun 2019 dihadiri sekitar 230 lebih ex pengungsi.

"Mereka terharu sekali, ingin membangkitkan kembali kenangan tentang bagaimana perjuangan mencari kehidupan layak di Pulau Galang ini. Setiap ke sini, mereka tidak ingin menginap di hotel. Malah ada yang meminta didirikan wisma di sekitar lokasi ex Camp Vietnam ini, untuk tujuan reuni," tambah Adnan.

(TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)

Baca juga: Kapolsek KKP Batam Berganti, AKP Budi Hartono Gantikan AKP Syaiful Badawi

Baca juga: Wacana Pelabuhan Batam Jadi Green Port Berstandar Internasional, Unhan Kunjungi BP Batam

Baca juga: 70 Applicants In a Day, Batam Immigration Still Serves Passport Processing in the Midst Covid-19

Sumber: Tribun Batam

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved