WISATA BATAM

Menelusuri Wisata Sejarah di Belakang Padang Batam, Miliki Kantor Polisi Kolonial Belanda

Beragam destinasi wisata terbaik bisa ditemukan di Kecamatan Belakang Padang. Contohnya adalah wisata sejarah seperti kantor polisi kolonial Belanda

Editor: Putri Larasati
Disbudpar Batam
Melihat wisata sejarah di Pulau Belakang Padang, simpan cerita ini. 

Editor: Putri Larasati Anggiawan

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Beragam destinasi wisata terbaik bisa anda temukan di Kota Batam, Kepulauan Riau. 

Mulai dari wisata kuliner hingga sejarah tersedia di kota madani ini.

Salah satu yang terkenal adalah destinasi wisata di Kecamatan Belakang Padang.

Kecamatan Belakang Padang memiliki wisata sejarah yang terletak di Pulau Tolop.

Untuk sampai ke Pulau Tolop pengunjung harus melewati jalur laut selama 30 menit dengan menggunakan pancung dari Pelabuhan Sekupang.

Sepanjang perjalanan pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan pulau yang cantik.

Keseruan Snorkeling di Pulau Abang Batam, Miliki Air Laut Jernih dan Terumbu Karang Indah

Kemudian gedung-gedung negara tetangga Singapura tampak jelas dari pulau ini.

Pulau ini sangat cantik diabadikan lewat camera, pengunjung bisa berswafoto dengan pemandangan gedung tinggi Singapura dan warna laut yang biru.

Di pulau ini, ada sebuah makam yang tercatat dalam salah satu situs cagar budaya di Kota Batam.

Makam tersebut adalah Makam Syeh Syarif Ainun Naim Bin Maulana Ishaq.

Syeh yang dikenal dengan julukan Sunan Tulub ini lahir di Samudra Pasai pada tahun 761 H dan wafat pada tahun 842 H / 1503 M.

Selain makam Sunan Thulub, di Pulau Tolop, beberapa objek wisata sejarah lain nya juga terdapat di Pulau Penawar Rindu ini.

Seperti Kantor Polisi yang pembangunannya diperkirakan sekitar tahun 1930-an.

Perairan Belakang Padang, Batam, Sabtu (17/8/2019).
Perairan Belakang Padang, Batam, Sabtu (17/8/2019). (TRIBUNBATAM.ID/ BERES LUMBANTOBING)

Hal ini dapat dilihat dari Gedung Catur Sakti dan Asrama Border Police sekarang.

Kemungkinan dulunya komplek bangunan ini dipergunakan sebagai Kantor Polisi Kolonial Belanda.

Komplek ini merupakan komplek yang terdiri dari perkantoran dan perumahan polisi yang berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi.

Selanjutnya ada juga kantor imigrasi yang dibangun pada tahun 1950-an .

Kantor ini dulunya hanya sebuah pos imigrasi yang wilayah kerjanya berada di bawah naungan Kantor Imigrasi Tanjung Pinang. 
Keberadaannya saat itu khusus diperuntukkan melayani penyelesaian keimigrasian bagi kapal masuk dan kapal keluar negeri.

Kemudian Kantor Camat Belakang Padang.

Belakang Padang, Batam
Belakang Padang, Batam (TRIBUNBATAM)

Kantor camat ini secara historis memiliki kairan erat dengan Pulau Batam.

Dimana era 1959 sampai 1983 Kecamatan Batam beribukotakan Belakang Padang yang merupakan pindahan dari Pulau Buluh.

Di Pulau Penawar Rindu ini juga punya Gedung Nasional yang berfungsi sebagai pusat pertemuan para unsur Muspida se Kecamatan Belakang Padang pada masa lalu.

Gedung ini diresmikan pada 12 Mei 1960.

Komplek Angkatan Laut Belakang Padang serta Komplek Perumahan Prajurit Angkatan Laut yang berada di Kampong Jawa, Belakang Padang terdiri dari empat unit bangunan tua yang dihuni warga setempat.

Bangunan ini dibuat pada tahun 1958 dan tidak mengalami pemugaran sama sekali.

Tangki minyak berukuran besar di Pulau Sambu, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (11/2/2014).
Tangki minyak berukuran besar di Pulau Sambu, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (11/2/2014). (Tribun Batam/Zabur Anjasfianto)

Terlihat pada bentuk dinding yang sudah retak dan dimakan rayap.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata mengatakan Kota Batam memiliki banyak objek wisata yang menarik buat dikunjungi wisatawan.

Wisata tersebut terletak di penjuru Kota Batam, salah satunya berada di Kecamatan Belakang Padang.

Belakang Padang memiliki wisata sejarah yang menarik, dimana terdapat beberapa bangunan bersejarah yang menggambarkan tentang perjalanan Batam.

Bangunan-bangunan tersebut juga tercatat dalam cagar budaya Kota Batam.

“Saat ini Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam sedang mencatat ulang cagar-cagar budaya yang tersebar di Kota Batam,” terangnya.

Tujuan dilakukan pendataan ulang ini supaya sejarah yang dimiliki ini tidak hilang ditelan zaman dan keberadaannya diketahui masyarakat Kota Batam.

“Upaya kita melestarikan cagar budaya untuk mengenalkan kekayaan cagar budaya yang kita miliki serta meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya generasi muda kita dalam pelestarian warisan budaya,” katanya.

Dari catatan Disbudpar, terdapat 21 cagar budaya di Kota Batam.

Diantaranya, Makam Nong Isa, Komplek Pemakaman Temenggung Abdul Jamal, Makam Tua Aceh, dan sebagainya.

“Kita (Disbudpar) akan terus berupaya untuk menemukan cagar budaya lainnya yang masih ada di Kota Batam,” tutupnya.

(*)

Sumber: Disbudpar Batam.

Masjid Agung Karimun, Tempat Ibadah dan Destinasi Wisata Religi, Bisa Tampung 4.000 Jamaah

Potret Keindahan Air Terjun Temburun, Destinasi Wisata Eksotis di Kepulauan Anambas

Makan Porsi Besar di Kerang Tumpah City Foodcourt, Lezatnya Gonggong Saus Singapore

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved